Minggu, 19 Februari 2012

My Beautiful Brother

Catatan :: Fanfic Vocaloid ini cuma karanganku. Karena aku sedang crazy of Kagamine Len (Vocaloid), makanya aku bikin cerita tentang mereka. Aku cuma “meminjam” tokoh dari Vocaloid, dan selebihnya adalah murni imajinasiku yang ngaco. Hehehe... Selamat membaca, walaupun ceritanya mungkin agak maksa. Hope U like it. Tinggalkan komentar ya, hehe :))

Banyak orang memandang anak kembar sebagai hal yang unik. Kenapa? Aku juga tidak mengerti. Tapi aku juga merasa bahwa terlahir sebagai anak kembar memang memiliki kesenangan tersendiri. Namaku Kagamine Rin. Dan aku punya saudara kembar bernama Kagamine Len. Kami terlahir sebagai kembar identik hampir 14 tahun yang lalu. Agak aneh memang kalau aku bilang wajah Len mirip denganku, mengingat bahwa aku adalah perempuan, sedangkan Len laki-laki. Tapi aku serius! Len benar-benar imut, dan.... ‘cantik’.
“Rin-Chaaaan~” seru Len yang langsung menyerbu ke kamarku.
“Kyaaaa!!”
BUG! Tanpa sadar aku memukul Len dengan bantal sampai dia tersungkur di kasur.
“Len! Sudah ku bilang ketuk pintu dulu!” kataku sedikit kesal.
“Mawaf, akwu wupwa” gumam Len. Kepalanya masih terbenam dikasur sehingga dia sulit bicara.
“Apa? Bicara yang jelas dong.” Aku membantu Len berdiri.
“Aduuh, maaf. Aku terlalu semangat, jadi lupa ngetuk pintu.” kata Len sambil mengusap kepalanya yang terkena serangan bantal-ku tadi.
“Eh, memangnya ada apa?” tanyaku.
Len nyengir lalu menarikku keluar.
“Mau kemana?” tanyaku lagi.
“Ke depan dong. Luka-San sudah pulang. Sekarang dia sedang bagi oleh-oleh didepan.” kata Len sambil setengah berlari dan menarik tanganku.
“Hei, sini, sini cepat!” teriak Miku yang dari tadi sudah berada disana bersama Luka, Kaito, dan Gackupo.
Mmm, mereka semua teman-temanku sesama anggota Vocaloid, grup vocal yang lumayan terkenal saat ini. Sebenarnya anggota Vocaloid ada banyak. Tapi kami dikelompokkan sesuai tahun dimana kami bergabung. Diantara kami semua, Gackupo adalah yang paling tua (18 tahun), sedangkan aku dan Len yang paling muda. Hatsune Miku, Leader kelompok kami dan Kaito berusia dua tahun diatasku (16 tahun), sedangkan Megurine Luka setahun lebih muda dari Gackupo (17 tahun).
“Hwah, Luka-san. Aku kangen banget.” kataku sambil memeluk Luka.
“Hayo, kangen aku atau kangen oleh-oleh dariku?” tanya Luka bercanda.
“Umm, kurasa kedua-duanya. Hehehe.” Aku nyengir. Miku menyenggol lenganku.
"Oke, sayang. Ini punya kalian.” kata Luka sambil memberi bingkisan kuning padaku dan Len.
“Horeee!” teriakku dan Len serentak. Kami langsung membuka bingkisan itu dengan semangat.
“Um, Luka-san, sepertinya ada yang salah disini.” kata Len setelah melihat isi bingkisan itu.
“Ada apa?” tanya Luka.
“Isinya..... Gaun?” kata Len sambil mengeluarkan baju yang ada dalam bingkisan itu.
“Itu pasti punya Rin.” kata Kaito.
“Gaunnya ada dua.” Aku ikut mengeluarkan gaun pink lembut milikku.
“Maaf ya, Len. Gaun itu memang sepasang. Ku pikir kau akan cocok memakainya kok.” kata Luka sambil tertawa. Walaupun tampangnya sedikit judes, sebenarnya Luka cukup sering menjahili kami.
“APAAA??!!” teriak Len histeris.
“Benar juga! Ayo, kita pakai. Aku mau kita difoto pakai gaun ini.” kataku dengan mata berbinar-binar. Ini ide yang sangat bagus menurutku. Toh selama ini kami sering makai jacket dan baju kembar. Kalau kami pakai gaun yang sama, pasti lebih menarik lagi.
“Hahaha. Benar juga. Kalau diperhatikan, Len cukup cantik kok. Seperti Rin.” kata Gackupo yang dari tadi diam.
“Apanya yang cantik?!” protes Len yang siap melayangkan tinjuannya kearah Gackupo.
“Eh, jangan berantem. Ayo cepat pakai!” kataku sambil memasangkan gaun kebadan Len.
“Hei, hei, Rin. Apa-apaan nih?” Len berusaha melawan. Sayangnya aku lebih cepat darinya.
“Nggak apa-apa kan, Len? Sekaliii aja.” pintaku manja.
Len memasang wajah kesal. Tapi dia tidak melepas gaun ini karena aku. Aku tau. Len selalu berusaha memberikan atau melakukan apa yang ku mau.
“Sebentar, deh. Ada yang kurang.” kata Miku sembari memasangkan pita dikepala Len.
“Nah, ayo kita foto...” kataku sambil menarik Len dan berpose ke arah kamera yang dipegang Luka.
“Haa.. Kawaii.” Kataku yang langsung memeluk Len saking senangnya.
“Hai, cantik. Sekarang giliran kau foto denganku.” goda Kaito.
“Kauuuu...” Len melepas pelukanku dan langsung bergulat dengan pria berambut biru itu.
“Jangan berantem, dong. Nanti gaunnya bisa rusak!” kata Gackupo ikut-ikutan menggoda Len.
“Oh ya? Kalau begitu kau saja yang pakai ini.” kata Len sambil menarik rambut Gackupo yang panjang. Terjadilah pertengkaran konyol diantara mereka bertiga. Seperti biasa, kami para gadis hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.
“Sudah, sudah.” kata Miku berusaha memisahkan mereka.
Miku menarik Len yang menduduki badan Kaito. Tapi tangan Len masih memegang rambut ungu Gackupo dan tanpa sengaja rambut Gackupo ikut tertarik. Karena kesakitan bercampur kaget, Gackupo refleks menarik rambutnya kearah berlawanan sehingga Len terjatuh bersama Miku yang sedang memegangnya. Miku jatuh tepat disebelah Len, dan wajah mereka berhadapan cukup dekat.
Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Len dan Miku, termasuk aku. Aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam dadaku.
“Eh?” pekikku setelah sadar mereka bertatapan cukup lama. Maksudku, sepertinya aku mulai sadar dengan apa yang terjadi.
Len langsung berdiri dan memalingkan wajahnya dariku. Miku juga segera duduk. Wajahnya berubah jadi merah merona.
“Eh, anu... Ehem.” Miku langsung berdiri dan pergi meninggalkan kami. Meninggalkan aku yang masih membatu.
“Ehem... Ehem... Ciee..” Gackupo menggoda Len yang wajahnya sama merahnya dengan Miku.
Len hanya diam. Masih belum mau memperlihatkan mukanya. Kaito seakan tau kalau Len tidak mau aku melihat muka merahnya menyenggol Len dan berlari keluar bersama Gackupo.
“He.. Hei tunggu!!” Len ikut berlari mengejar Kaito dan Gackupo.
Aku masih membisu dengan wajah melongo.
“Ada apa, Rin?” tanya Luka yang masih duduk bersimpuh disebelahku.
“Eh, apa? Aku tidak apa-apa.” kilahku. Kemudian aku terdiam lagi.
Luka tidak berhenti menatapku seakan memaksaku untuk bicara.
“A.. Aku cuma kaget kok.”
“Kenapa?”
“Aku baru sadar kalau kami sudah semakin besar.”
“Maksudmu?”
“Ya, walaupun memakai gaun, terkadang Len juga terlihat keren. Maksudku, seperti laki-laki.”
“Oh.” Luka sepertinya mulai mengerti maksudku. “Kau pasti sangat menyayanginya, ya?”
Aku tertawa kecil.
“Tidak ada alasan untuk tidak sayang padanya, kan? Len, adalah keluargaku satu-satunya. Dia adalah harta yang sangat berharga bagiku. Tapi sepertinya aku terlalu senang dengan semuanya sampai-sampai aku nggak sadar kalau suatu saat Len juga akan jatuh cinta.” kataku pelan.
“Terus? Apa yang kau khawatirkan?” tanya Luka.
Aku menatap wajah cantik Luka dalam.
 “Selama ini Len selalu memperhatikanku. Dia tau apa yang ku mau. Tapi aku sendiri malah tidak memperhatikannya. Lagi pula, kenapa Len nggak pernah cerita kalau dia suka Miku?!” jawabku.
“Dia pasti malu. Kau tau, walaupun pada kembaran sendiri, tidak mudah bagi anak laki-laki untuk curhat masalah cinta.” kata Luka yang kemudian tertawa.
Aku ikut tertawa dengannya. Ya, aku bisa tak bisa bayangkan bagaimana jadinya kalau Len curhat tentang Miku padaku. Walaupun Len tipe cowok yang konyol.
“Mungkin aku yang harus bertanya dan mendukungnya kan?” tanyaku pada Luka.
“Ya. Tapi sebelum itu, sepertinya kita harus melihat keadaan tiga pria konyol yang sedang bertengkar itu terlebih dahulu.” 
***
Rin - Len - Miku - Kaito - Gackupo - Luka
Kagamine Rin n Len waktu kecil :)
Kagamine Twins

9 komentar:

Cekidot

A